beberapa hari yang lalu, saat saya tak mempunyai ghiroh untuk belajar matematika (padahal ujian waaaaa...!) seperti biasa saya mulai berpikir jauh tentang sesuatu yang tidak masuk akal.
seperti (pikiran saya kemarin) kenapa saya seperti ini? perasaan dulu, duluuuu sekali dan dulu (tidak pakai sekali) saya tidak seperti ini.
dulu, waktu Tk saya hanyalah seorang bocah kecil penakut yang cengeng (sepertinya) dan tidak bisa tersenyum ( sampai sekarang saya tidak habis pikir untuk yang satu ini). ibu saya bercerita bahwa saya hanya bisa tersenyum satu kali, saat pentas menari di TK (saya menjadi satu-satunya semut yang tersenyum). entah kenapa saya tidak tersenyum saat itu, alasan yang sudah saya lupa, terlupa, atau bahkan sengaja dilupakan. yah semua yang tidak jelas terjadi di taman kanak-kanak, saya tidak punya teman, dimarahi tiap pagi karena telat (walau cuma lima menit!), dan merasa dideskriminasi.
diskriminasi! diskriminasi? anak Tk sudah tahu diskriminasi!
ya mau bagaimana lagi, keadaan yang membuatku tahu dan benci dengan diskriminasi.....saat itu. waktu itu saya sedang sebel-sebelnya dengan guru-guru saya di taman kanak-kanak yang galak-galak, padahal saya masih TK! pikir saya, seharusnya anak TK di-emong.
saya jalan-jalan di taman bermain milik Tk saya, sendiri sambil melihat-lihat ulat di pohon (ini benar-benar masih saya ingat sampai sekarang) dan anak itu pun datang. anak itu adalah anka berumur sekitar 2-3 tahun yang BUKAN murid Tk saya tapi memakai seragam Tk saya. ah, masa bodoh dia siapa! yang saya acuhkan adalah.......guru saya yang biasanya memarahi saya malah menjadi amaaat baik pada dia! anak itu! bukan amat baik, terlalu baik malah, sampai seperti.....di******a*. saya langsung merasa cemburu dan tidak adil, saya berpikir saya yang datang tiap hari ke Tk ini! kenapa saya yang dimarah-marahi dan dia yang dikata-katai lembut seperti itu? wah, saya tidak suka begini bu....
saya melanjutkan waktu istirahat saya dengan berjalan-jalan sendiri (lagi-lagi sendiri) dan terhenti pada ulat pohon lagi, sambil memendam amarah saya melihat-lihat ulat pohon lagi.
diskriminasi.....
diskriminasi menurut anak Tk, beberapa tahun kemudian saya pun melupakan kejadian itu, perlahan-lahan terlupakan, dan hilang, tapi tahun-tahun belakangan ini tiba-tiba saya teringat lagi saat itu, saat saya menemukan arti kata diskriminasi untuk pertama kalinya. diskriminasi anak Tk. kadang saya ingin tertawa kalau mengingatnya, begitu kekanakannya saya....dan kadang saya ingin menangis bila mengingatnya, karena.........setelah beberapa tahun saya masih merasakan rasa cemburu itu, entah pada keluargaku sendiri atau pada sekolah atau pada komputer, entahlah....
padahal saya tahu. itu adalah suatu perasaan yang bodoh.
bukankah semua rezeki, jodoh, dan kematian kita sudah terjaga di tangan Nya? kalau memang kita berhak atasnya (nya: harta, benda, kasih sayang, teman, perhatian, dll) kita pasti merasakannya, PASTI!!
nah disinilah saya merasa, betapa saya masih begitu dangkal untuk hidup dan melangkahkan kaki di bumi ini.....padahal ini hanya bumi yang fana.
itu adalah saya, waktu Tk.
kemudian...Sd, sekolah dasar adalah saat saya merasa materi adalah tiada duanya. materi-materi dan materi, dalam hal ini ...nilai. nilai dari siapa saja, rasanya saya jadi gila nilai. saya merasa butuh dinilai baik oleh orang lain. saya berusaha apa saja untuk mendapat nilai yang terbaik dan saya (waktu Sd) menjadi anak yang memilih diam belajar di rumah daripada jalan-jalan ke luar bersama teman (mungkin karena saya tak punya teman dekat). lagipula selalu tak ada yang mengajak pergi kemanapun. jadi diam dan menurut di rumah menjadi satu-satunya pilihan saya yang lama kelamaan menjadi rutinitas saya. itu semua telah menjadi kebiasaan. saya waktu Sd adalah anak yang....membutuhkan nilai dan secara tidak sadar berusaha keras untuk mendapatkan penilaian terbaik dari orang lain. dengan begitu, wajar saja bila saya berpikir terlalu sederhana untuk hidup ini, mungkin juga lantaran saya masih kecil.
saya menjadi sedikit 'batu' yang lumayan keras.
.................................................................................................................................................. continued
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment